Syiah Kuala, siapa yang tidak kenal nama ini, nama yang di'laqab'kan bagi salah satu Ulama Besar di Nusantara yang berasal dari sebuah wilayah kerajaan Aceh Darussalam, yaitu Syech Abdurrauf as-Singkily, yang sekarang juga dipakai menjadi Nama Universitas di provinsi paling barat dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu Provinsi Aceh, yang sangat familiar ditelinga semua orang bahkan juga diseluruh dunia, terutama setelah terjadinya musibah bencana alam gempa bumi dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004.
Saat ini, Syiah Kuala merupakan salah satu kecamatan hasil pemekaran Kota Banda Aceh pada tahun 1983 (berdasarkan PP Nomor 5 tahun 1983), bersama dengan kecamatan Meuraxa, mendampingi 2 (dua) kecamatan lainnya yang sudah lebih dulu muncul yaitu Baiturrahman dan Kuta Alam (berdasarkan UU (drt) nomor 5 tahun 1956). Yang kemudian juga dimekarkan lagi pada tahun 1999/2000 (berdasarkan Surat Menteri Dalam Negeri Nomor 138/2352/PUOD tanggal 16 Agustur 1999) menjadi 9 (sembilan) kecamatan dengan tambahan kecamatan Ulee Kareng, Banda Raya, Kutaraja, Lueng Bata, dan Jaya Baru. Syiah Kuala juga menjadi salah satu wilayah yang paling parah terkena musibah tsunami Tahun 2004 yang lalu.
Wilayah Kecamatan Syiah Kuala yang terletak di bagian Timur Kota Banda Aceh terletak pada 5,561'-5,612 LU dan 95,318-95,378' BT memiliki luas 1.424 Ha, terbagi ke dalam 10 (sepuluh) desa/gampong yang juga tergabung dalam 2 kemukiman, yaitu Kemukiman Syiah Kuala dan Kemukiman Kayee Adang.
Adapun batas-batas wilayah Kecamatan Syiah Kuala adalah :
Sebelah Utara : Kecamatan Subulussalam & Darussalam, Kab. Aceh Besar
Sebelah Timur : Kecamatan Ulee Kareng, Kec. Krueng Barona Jaya (Aceh Besar)
Sebelah Selatan : Kecamatan Kuta Alam
Sebelah Barat : Selat Malaka
Jumlah Penduduk Syiah Kuala setelah tsunami sangat banyak berkurang karena menjadi korban musibah tersebut, namun saat ini sudah mencapai kondisi normal 36.662 ribu jiwa /10.652 KK, dimana 26% diantaranya adalah anak-anak.